MAPUTO – Di provinsi Cabo Delgado, Mozambik, kombinasi dari konflik, topan, COVID-19, dan kolera terjadi, menciptakan sebuah krisis kemanusian yang parah – dan krisis ini pun menjadi semakin buruk. Perkiraan pada bulan September menunjukkan bahwa lebih dari 250.000 orang dari sekitar 2,5 juta orang – 10% dari populasi di provinsi tersebut – kini harus mengungsi. Lebih dari separuh anak-anak yang berusia di bawah lima tahun mengalami malnutrisi kronis. Dan, pada bulan Oktober, provinsi Cabo Delgado mencatatkan kasus COVID-19 tertinggi ketiga.
Ketika organisasi-organisasi kemanusiaan bekerja untuk menyediakan makanan, air bersih, dan tempat berlindung yang memadai – di tengah pandemi yang sedang berlangsung – memberikan kondom dan alat-alat kontrasepsi lainnya mungkin tidak terlihat sebagai hal yang penting. Tapi kegagalan dalam memastikan akses terhadap alat-alat pendukung program keluarga berencana tidak hanya akan memperdalam krisis yang saat ini terjadi; tapi juga menghambat Mozambik dalam mencapai potensinya di masa depan.
Bahkan sebelum krisis saat ini terjadi, perempuan dan anak perempuan di Cabo Delgado berada dalam kondisi yang sangat rentan, karena faktor-faktor seperti kemiskinan hingga patriarki. Norma-norma tersebut – dan kekerasan berbasis gender (KBG) yang tumbuh di dalamnya – menghambat kemampuan perempuan dan anak perempuan menggunakan pemikiran dan menjalankan hak-hak mereka, serta secara langsung mengancam akses terhadap dan penggunaan kontrasepsi.
Saat ini, kondisi distrik-distrik di bagian utara yang semakin tidak aman memaksa fasilitas kesehatan yang dulunya menyediakan layanan kesehatan seksual dan reproduksi untuk tutup, sementara fasilitas kesehatan lainnya kekurangan pasokan medis penting, peralatan dan juga staf. Bagi lebih dari 125.000 pengungsi perempuan dan anak perempuan di Cabo Delgado, tantangan ini sangat besar. Beberapa inovasi penting sudah diterapkan untuk membantu mengatasi tantangan ini: misalnya, tim kesehatan keliling memberikan layanan keluarga berencana dan reproduksi darurat untuk lebih dari 60.000 perempuan dan anak perempuan di berbagai provinsi, termasuk daerah-daerah paling terpencil di Cabo Delgado. Tapi masih banyak pengungsi perempuan dan anak perempuan yang masih tidak bisa mengakses layanan tersebut.
Kurangnya akses terhadap fasilitas kesehatan dengan peralatan yang lengkap – termasuk alat-alat pendukung program keluarga berencana – meningkatkan risiko kehamilan yang tidak direncanakan dalam kondisi yang berbahaya, sehingga berpotensi menyebabkan komplikasi obstetri yang mengancam nyawa. Hal ini juga menyebabkan penyintas KBG tidak mempunyai akses terhadap layanan, informasi, dan dukungan yang bisa menyelamatkan nyawa – seperti ruang aman yang khusus perempuan, saluran telepon hotline dengan konselor terlatih, atau “pusat layanan” yang mengintegrasikan layanan kesehatan, tindakan sosial, kepolisian, dan keadilan – yang mereka perlukan.
Access every new PS commentary, our entire On Point suite of subscriber-exclusive content – including Longer Reads, Insider Interviews, Big Picture/Big Question, and Say More – and the full PS archive.
Subscribe Now
Akses terhadap program keluarga berencana yang aman dan efektif jelas sangat penting untuk menegakkan hak asasi manusia, memfasilitasi kemajuan keadilan gender dan pemberdayaan perempuan, serta mematahkan siklus kemiskinan. Hal ini juga merupakan salah satu investasi paling cerdas dan menguntungkan yang bisa dilakukan oleh negara berkembang.
Di Mozambik, Bank Dunia memperkirakan bahwa pengurangan tingkat kesuburan sebanyak satu anak per perempuan usia subur bisa berdampak pada 31% peningkatan pertumbuhan PDB per kapita pada tahun 2050. Hal ini bisa dicapai hanya dengan memenuhi kebutuhan program keluarga berencana sukarela yang tidak terpenuhi. Menurut survei Demografi dan Kesehatan terbaru, perempuan Mozambik, rata-rata mengatakan bahwa jumlah anak yang ideal adalah satu anak lebih sedikit dari tingkat kesuburan saat ini.
Tapi pertumbuhan PDB hanya satu bagian dari cerita ini saja. Daftar Ancaman Ekologi (Ecological Threat Register) terbaru dari Institute for Economic & Peace menilai Mozambik sebagai negara dengan paparan kedua terbesar terhadap ancaman-ancaman ekologi tersebut. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap peringkat ini adalah tingkat pertumbuhan populasi: populasi Mozambik diperkirakan akan meningkat sebesar dua kali lipat, dari 30 juta orang pada saat ini menjadi 60 juta orang pada tahun 2050.
Mozambik memiliki aset yang besar. Cabo Delgado saja mungkin akan memiliki beberapa proyek gas alam terbesar di Afrika, dengan potensi nilai lebih dari $50 miliar. Hal ini menunjukkan potensi bagi pertumbuhan yang luas.
Tapi untuk mencapai potensi negara ini – serta untuk melindungi anak perempuan dan perempuan, mengurangi kemiskinan dan banyak hal lain – membangun dan mendukung modal manusia adalah hal yang sangat penting. Hal ini memerlukan investasi pada pendidikan, pelatihan, dan kesehatan, termasuk akses yang aman dan bisa diandalkan pada alat-alat pendukung program keluarga berencana.
Dana populasi PBB memperkirakan bahwa total investasi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan program keluarga berencana global yang tidak terpenuhi pada saat ini hingga tahun 2030 berjumlah $68,5 miliar. Ini adalah jumlah yang sangat besar, tapi jumlah ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah yang harus dibelanjakan untuk layanan kesehatan ibu dan anak serta layanan sosial lain untuk perempuan dan anak perempuan yang tidak ingin hamil.
Mendanai program keluarga berencana mempunyai dampak pengganda yang positif dan luas pada komunitas dan masyarakat, termasuk dalam kondisi krisis kemanusiaan, tidak hanya dengan memungkinkan perempuan dan anak perempuan untuk menerapkan hak mereka untuk menentukan apakah mereka mau mempunyai anak, dan kapan serta dengan siapa mereka mau mempunyai anak. Kemampuan tersebut, jika dimiliki oleh semua orang, akan menjadi landasan bagi masyarakat yang adil dan produktif. Masyarakat Cabo Delgado dan Mozambik layak untuk mendapatkan hal tersebut.
To have unlimited access to our content including in-depth commentaries, book reviews, exclusive interviews, PS OnPoint and PS The Big Picture, please subscribe
US Treasury Secretary Scott Bessent’s defense of President Donald Trump’s trade tariffs as a step toward “rebalancing” the US economy misses the point. While some economies, like China and Germany, need to increase domestic spending, the US needs to increase national saving.
thinks US Treasury Secretary Scott Bessent is neglecting the need for spending cuts in major federal programs.
China’s prolonged reliance on fiscal stimulus has distorted economic incentives, fueling a housing glut, a collapse in prices, and spiraling public debt. With further stimulus off the table, the only sustainable path is for the central government to relinquish more economic power to local governments and the private sector.
argues that the country’s problems can be traced back to its response to the 2008 financial crisis.
MAPUTO – Di provinsi Cabo Delgado, Mozambik, kombinasi dari konflik, topan, COVID-19, dan kolera terjadi, menciptakan sebuah krisis kemanusian yang parah – dan krisis ini pun menjadi semakin buruk. Perkiraan pada bulan September menunjukkan bahwa lebih dari 250.000 orang dari sekitar 2,5 juta orang – 10% dari populasi di provinsi tersebut – kini harus mengungsi. Lebih dari separuh anak-anak yang berusia di bawah lima tahun mengalami malnutrisi kronis. Dan, pada bulan Oktober, provinsi Cabo Delgado mencatatkan kasus COVID-19 tertinggi ketiga.
Ketika organisasi-organisasi kemanusiaan bekerja untuk menyediakan makanan, air bersih, dan tempat berlindung yang memadai – di tengah pandemi yang sedang berlangsung – memberikan kondom dan alat-alat kontrasepsi lainnya mungkin tidak terlihat sebagai hal yang penting. Tapi kegagalan dalam memastikan akses terhadap alat-alat pendukung program keluarga berencana tidak hanya akan memperdalam krisis yang saat ini terjadi; tapi juga menghambat Mozambik dalam mencapai potensinya di masa depan.
Bahkan sebelum krisis saat ini terjadi, perempuan dan anak perempuan di Cabo Delgado berada dalam kondisi yang sangat rentan, karena faktor-faktor seperti kemiskinan hingga patriarki. Norma-norma tersebut – dan kekerasan berbasis gender (KBG) yang tumbuh di dalamnya – menghambat kemampuan perempuan dan anak perempuan menggunakan pemikiran dan menjalankan hak-hak mereka, serta secara langsung mengancam akses terhadap dan penggunaan kontrasepsi.
Pada tahun 2015, tingkat prevalensi kontrasepsi di Cabo Delgado hanya 20% – yang merupakan salah satu tingkat terendah di Mozambik. Oleh karena itu tidak mengagetkan bahwa provinsi ini juga mempunyai tingkat kehamilan tertinggi pada remaja berumur 15-19 tahun (24%).
Saat ini, kondisi distrik-distrik di bagian utara yang semakin tidak aman memaksa fasilitas kesehatan yang dulunya menyediakan layanan kesehatan seksual dan reproduksi untuk tutup, sementara fasilitas kesehatan lainnya kekurangan pasokan medis penting, peralatan dan juga staf. Bagi lebih dari 125.000 pengungsi perempuan dan anak perempuan di Cabo Delgado, tantangan ini sangat besar. Beberapa inovasi penting sudah diterapkan untuk membantu mengatasi tantangan ini: misalnya, tim kesehatan keliling memberikan layanan keluarga berencana dan reproduksi darurat untuk lebih dari 60.000 perempuan dan anak perempuan di berbagai provinsi, termasuk daerah-daerah paling terpencil di Cabo Delgado. Tapi masih banyak pengungsi perempuan dan anak perempuan yang masih tidak bisa mengakses layanan tersebut.
Kurangnya akses terhadap fasilitas kesehatan dengan peralatan yang lengkap – termasuk alat-alat pendukung program keluarga berencana – meningkatkan risiko kehamilan yang tidak direncanakan dalam kondisi yang berbahaya, sehingga berpotensi menyebabkan komplikasi obstetri yang mengancam nyawa. Hal ini juga menyebabkan penyintas KBG tidak mempunyai akses terhadap layanan, informasi, dan dukungan yang bisa menyelamatkan nyawa – seperti ruang aman yang khusus perempuan, saluran telepon hotline dengan konselor terlatih, atau “pusat layanan” yang mengintegrasikan layanan kesehatan, tindakan sosial, kepolisian, dan keadilan – yang mereka perlukan.
Introductory Offer: Save 30% on PS Digital
Access every new PS commentary, our entire On Point suite of subscriber-exclusive content – including Longer Reads, Insider Interviews, Big Picture/Big Question, and Say More – and the full PS archive.
Subscribe Now
Akses terhadap program keluarga berencana yang aman dan efektif jelas sangat penting untuk menegakkan hak asasi manusia, memfasilitasi kemajuan keadilan gender dan pemberdayaan perempuan, serta mematahkan siklus kemiskinan. Hal ini juga merupakan salah satu investasi paling cerdas dan menguntungkan yang bisa dilakukan oleh negara berkembang.
Di Mozambik, Bank Dunia memperkirakan bahwa pengurangan tingkat kesuburan sebanyak satu anak per perempuan usia subur bisa berdampak pada 31% peningkatan pertumbuhan PDB per kapita pada tahun 2050. Hal ini bisa dicapai hanya dengan memenuhi kebutuhan program keluarga berencana sukarela yang tidak terpenuhi. Menurut survei Demografi dan Kesehatan terbaru, perempuan Mozambik, rata-rata mengatakan bahwa jumlah anak yang ideal adalah satu anak lebih sedikit dari tingkat kesuburan saat ini.
Tapi pertumbuhan PDB hanya satu bagian dari cerita ini saja. Daftar Ancaman Ekologi (Ecological Threat Register) terbaru dari Institute for Economic & Peace menilai Mozambik sebagai negara dengan paparan kedua terbesar terhadap ancaman-ancaman ekologi tersebut. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap peringkat ini adalah tingkat pertumbuhan populasi: populasi Mozambik diperkirakan akan meningkat sebesar dua kali lipat, dari 30 juta orang pada saat ini menjadi 60 juta orang pada tahun 2050.
Mozambik memiliki aset yang besar. Cabo Delgado saja mungkin akan memiliki beberapa proyek gas alam terbesar di Afrika, dengan potensi nilai lebih dari $50 miliar. Hal ini menunjukkan potensi bagi pertumbuhan yang luas.
Tapi untuk mencapai potensi negara ini – serta untuk melindungi anak perempuan dan perempuan, mengurangi kemiskinan dan banyak hal lain – membangun dan mendukung modal manusia adalah hal yang sangat penting. Hal ini memerlukan investasi pada pendidikan, pelatihan, dan kesehatan, termasuk akses yang aman dan bisa diandalkan pada alat-alat pendukung program keluarga berencana.
Dana populasi PBB memperkirakan bahwa total investasi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan program keluarga berencana global yang tidak terpenuhi pada saat ini hingga tahun 2030 berjumlah $68,5 miliar. Ini adalah jumlah yang sangat besar, tapi jumlah ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah yang harus dibelanjakan untuk layanan kesehatan ibu dan anak serta layanan sosial lain untuk perempuan dan anak perempuan yang tidak ingin hamil.
Mendanai program keluarga berencana mempunyai dampak pengganda yang positif dan luas pada komunitas dan masyarakat, termasuk dalam kondisi krisis kemanusiaan, tidak hanya dengan memungkinkan perempuan dan anak perempuan untuk menerapkan hak mereka untuk menentukan apakah mereka mau mempunyai anak, dan kapan serta dengan siapa mereka mau mempunyai anak. Kemampuan tersebut, jika dimiliki oleh semua orang, akan menjadi landasan bagi masyarakat yang adil dan produktif. Masyarakat Cabo Delgado dan Mozambik layak untuk mendapatkan hal tersebut.